RUU Pesantren; Harapan Baru Bagi Dunia Pendidikan Islam Menghadapi Hari Santri

Penyerahan Laporan Pengesahan UU Pesantren Kepada PBNU

Jakarta| 29/09/2019 NU Jakarta Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pesantren menjadi Undang-Undang (UU) setelah mendengar persetujuan dari seluruh fraksi partai politik di DPR RI.

Menanggapi kabar tersebut, salah seorang Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Robikin Emhas menyampaikan rasa syukur. Menurutnya, pengesahan RUU Pesantren menjadi kado istimewa bagi bangsa dan negara.


“Alhamdulillah, RUU Pesantren disahkan menjadi UU. Terima kasih Presiden Jokowi, DPR RI dan segenap pihak yang tidak mungkin disebut satu persatu. Secara khusus, terima juga kepada DPP PKB dan Fraksi PKB, juga PPP dan parpol lainnya,” ujar Robikin Emhas, Selasa (24/9) di Jakarta.

Dia menegaskan, pengesahan RUU Pesantren penting karena pesantren merupakan pilar penanaman nilai-nilai agama dan nasionalisme yang sudah teruji perannya.

“Selain itu, UU Pesantren yang disahkan menjelang peringatan Hari Santri 22 Oktober 2019 juga boleh dibilang merupakan kado tersendiri, bagi bangsa dan negara,” tegasnya.

“Semoga UU Pesantren menambah berkah bagi Indonesia,” harap Robikin. Menanggapi hal itu pula menurut Ketua PW RMI NU DKI Jakarta H. M. Bahaudin mengucapkan rasa syukur dan ucapan terimakasih kepada presidenen Republik Indonesia Jokowidodo serta para fraksi DPR yang ikut mengesahkan RUU Pesantren menjadi UU Pesantren.

“Terimaksih kepada Presiden Jokowidodo dan seluruh Fraksi DPR yang telah mengesahkan RUU Pesantren menjadi UU Pesantren, hal ini adalah kado untuk para santri dan warga Indonesia untuk menyambut hari santri nanti”. Tegas H.M. Bahaudin selaku ketua PW RMI NU DKI Jakarta.

Setelah melalui berbagai kajian, pertimbangan, dan rancangan yang dibuat oleh pihak-pihak terkait, RUU Pesantren disetujui oleh semua fraksi di DPR RI pada Selasa, 24 September 2019.

“Setuju!” kata 288 anggota DPR dari seluruh fraksi di Gedung Nusantara II, Kompleks Kantor DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (24/9).

Suara persetujuan itu sebagai jawaban atas pertanyaan yang disampaikan oleh Fahri Hamzah, Pemimpin Rapat Paripurna ke-10 DPR RI.

Sebelumnya, Fahri menerima banyak interupsi yang bersifat penguatan dari berbagai fraksi. Semua pandangan fraksi pada prinsipnya mendukung.

Sementara itu, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan pandangan terakhir Presiden RI Joko Widodo.

Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa RUU Pesantren dibuat karena adanya kebutuhan mendesak atas independensi pesantren berdasarkan fungsinya, yakni dakwah dan pemberdayaan masyarakat.

Di samping itu, RUU tentang Pesantren ini juga merupakan bentuk afirmasi dan fasilitasi bagi pesantren. Pengesahan RUU Pesantren ini disambut dengan Shalawat Badar dan lantunan Ya Lal Wathan oleh anggota DPR RI yang hadir dalam rapat paripurna.(28/09), (Khusen Al bab)

Meningkatkan Kualitas Warga Nu Di DKI Jakarta Dibidang Teknologi Dan IT Lembaga Ta’lif Wal Nasyr Nu (LTN Nu) DKI Jakarta Mengadakan Pelatihan Jurnalistik Berbasis IT

Jakarta| 29/06/19 NU To Line, PWNU DKI Jakarta

            Untuk Meningkat Kan Kualitas warga Nahdlathul Ulama  di bidang Teknologi Pengurus Wilayah Nahdlathul Ulama Provinsi DKI Jakarta membuat Pelatihan Jurnalistik Berbasis IT, yang di adakan pada hari sabtu tanggal 29 Juni 2019, Acara tersebut dihadiri oleh 26 peserta baik dari lembaga NU , Badan Semi Otonom NU (BANOM NU), dan lain-lainya.

            Acara yang bekerja sama dengan Lembaga Ta’lif Wan Nasyr NU (LTN NU) DKI Jakarta ini juga menghadirkan pemateri-pemateri yang kompeten di bidangnya. Acara tersebut di awali dngan sambuntan-sambutan salah satu sambutan disampaikan oleh  M. Hazami Romli sebagai wakil sekretaris PWNU DKI Jakarta. Dalam sambutannya ia menyampaikan harapannya ”dengan diadakannya peatihan ini agar media-media NU di DKI Jakarta Khususnya bisa berkembang dengan baik. “Peserta juga diharapkan bisa membantu untuk perkembangan media NU di Jakarta.” Lanjut M. Hazami Romli.

Ketua Lembaga Ta’lif Wan Nasyr NU  DKI Jakarta (LTN NU DKI Jakarta ) Yusron Syarif juga menyampaikan ”Warga NU di DKI Jakarta Juga harus mampu bersaing di bidang Teknologi Khususnya media sosial. “Target dari acara ini supaya warga Nahdathul Ulama bisa berdakhwah dibidang media sosial karna anak-anak remaja khususnya pada zaman sekarang ini lebih mengutamaan gadgetnya masing-masing”, tutur ketua Lembaga Ta’lif Wan Nasyr NU  DKI Jakarta (LTN NU DKI Jakarta Yusyron Syarief

Menurut M. Naufal Jamil Sebagai salah satu peserta Pelatihan Jurnalistik Berbasis IT berharap “Dengan diadakan pelatihan ini media NU di Jakarta dapat mampu bersaing dengan media-media yang ada saat ini. (Kusen Al – Bab)

Kumpulan Do’a Nabi Muhammad

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Berikut beberapa doa yang dibaca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Semoga bisa kita amalkan,

1. Ditetapkan hati dalam Iman

اَللَّهُمَّ يا مُصَرِّفَ الْقُلُوْبِ، صَرِّفْ قُلُوْبُنَا عَلَى دِينِكَ

“Wahai Tuhan yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agamaMu.” (HR. Muslim 2654)

2. Ampunan dalam segala hal

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ خَطِيْئَتِيْ، وَجَهْلِيْ، وَإِسْرَافِيْ فِي أَمْرِيْ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ. اللّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ جَدِّيْ وَهَزْلِيْ، وَخَطَئِيْ وَعَمْدِيْ، وَكُلُّ ذلِكَ عِنْدِيْ، اللّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ، وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ، وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ، وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

“Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kebodohanku, keberlebih-lebihan dalam perkaraku, dan apa yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah diriku dalam kesungguhanku, kelalaianku, kesalahanku, kesengajaanku, dan semua itu adalah berasal dari sisiku. Ya Allah, ampunilah aku dari segala dosa yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan, segala dosa yang aku sembunyikan dan yang aku tampakkan, dan dosa yang Engkau lebih mengetahui daripadaku, Engkaulah Yang Maha Mendahulukan dan Yang mengakhirkan, dan Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. (HR. Bukhari 6398 dan Muslim 2719).

3. Mohon Diperbaiki Segala Urusan

اَللَّـهُـَّم أَصْلِحْ لِي دِينِي الّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي، وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الّتِي فِيهَا مَعَاشِي، وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الّتِي فِيهَا مَعَادِي، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ

Ya Allah mohon kebaikan pada urusan agamaku karena itu adalah penjaga semua urusanku. Aku mohon kebaikan pada urusan duniaku karena itu tempat hidupku. Aku mohon kebaikan pada urusan akhiratku karena itu tempat kembaliku. Jadikanlah hidup ini tambahan kebaikan bagiku, dan jadikanlah kematianku waktu istirahat bagiku dari segala keburukan. (HR. Muslim 2720)

4. Perlindungan dari Fitnah Kaya dan Fitnah Miskin

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الكَسَلِ وَالهَرَمِ، وَالمَأْثَمِ وَالمَغْرَمِ، وَمِنْ فِتْنَةِ القَبْرِ، وَعَذَابِ القَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ النَّارِ وَعَذَابِ النَّارِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الغِنَى، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الفَقْرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الَمسِيحِ الدَّجَّال

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan usia jompo, perbuatan dosa dan hutang, fitnah kubur dan azab kubur, fitnah neraka dan azab neraka, keburukan fitnah kekayaan; aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kemiskinan dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah Masih Dajjal. (HR. Bukhari 6368)

5. Perlindungan Dicabutnya Nikmat Lahir Batin

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya kenikmatan yang telah Engkau berikan, dari berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan, dari siksa-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan dari segala kemurkaan-Mu. (HR. Muslim 2739).

6. Agar Dijauhkan dari Sifat Pengecut & Tidak Pikun

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sikap pengecut, aku berlindung kepada-Mu kepada serendah-rendahnya usia (pikun), aku berpindung kepada-Mu dari fitnah dunia, dan aku berlindung berlindung kepada-Mu dari adzab kubur. (HR. Bukhari 2822)

7. Berlindung dari Keburukan Amal

اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَمِلْتُ، وَشَرِّ مَا لَمْ أَعْمَلْ

Ya Allah, aku berlindung dari keburukan yang telah aku perbuat dan keburukan yang belum aku perbuat. (HR. Muslim 2716)

8. Agar Jiwanya Bertaqwa & Berlindung dari Ilmu yang tidak Manfaat

اللهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا

Ya Allah karuniakan ketakwaan pada jiwaku. Sucikanlah ia, sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya, Engkau-lah Yang Menjaga serta Melindunginya. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari Ilmu yang tidak manfaat, hati yang tidak khusyu, dan doa yang tidak diijabahi. (HR. Muslim 2722).

9. Mohon Bisa Melihat Wajah Allah

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ، وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ، وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ

Ya Allah, Aku mohon kepada-Mu kenikmatan memandang wajah-Mu (di Surga), rindu bertemu dengan-Mu tanpa penderitaan yang membahayakan dan fitnah yang menyesatkan. (HR. Nasai 1305 dan dishahihkan al-Albani)

10. Dimudahkan Berbuat Baik & Mencintai Orang Miskin

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ وَأَنْ تَغْفِرَ لِى وَتَرْحَمَنِى وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةَ قَوْمٍ فَتَوَفَّنِى غَيْرَ مَفْتُونٍ

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mudah melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran serta aku memohon pada-Mu supaya bisa mencintai orang miskin,ampunilah (dosa-dosa)ku, rahmatilah saya, jika Engkau menginginkan untuk menguji suatu kaum maka wafatkanlah saya dalam keadaan tidak tenggelam dalam ujian.(HR. Tirmidzi no. 3235 dan Ahmad 5: 243, dan Dishahihkan al-Albani)

11. Mohon Agar Bisa Mencintai Orang yang Mencintai Allah

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ

Saya memohon agar dapat mencintai-Mu, mencintai orang-orang yang mencintai-Mu dan mencintai amal yang dapat mendekatkan diriku kepada cinta-Mu. (HR. Tirmidzi no. 3235 dan Ahmad 5: 243, dan Dishahihkan al-Albani).

12. Mohon Kebaikan dalam Segala Hal yang Pernah Diminta Nabi

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ بِهِ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِي خَيْرًا

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu seluruh kebaikan yang segera (dunia) dan yang tertunda (akhirat), kebaikan yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui. 
Dan aku berlindung kepadaMu dari segala keburukan yang segera (dunia) dan yang tertunda (akhirat), yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui.
Aku meminta kepada-Mu kebaikan semua doa yang pernah diminta oleh hamba dan nabi-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan, yang hamba dan nabi-Mu pernah berlindung darinya.
Aku memohon surga kepadaMu dan segala perkataan dan perbuatan yang mendekatkan kepadanya. Aku berlindung kepadaMu dari neraka dan segala perkataan dan perbuatan yang mendekatkan kepadanya.
Aku meminta segala sesuatu yang telah Engkau takdirkan untukku, hendaklah Engkau jadikan kebaikan bagiku.
(HR. Ahmad 25019, Ibnu Majah 3846 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

*Wallahu A’lam Bish-Shawab

Mengenal Sosok Almarhum KH. Zainuddin MZ

NU Toline | KH. Zainuddin MZ

Jakarta, 03/03/19 21:51 | NU Toline  K.H. Zainuddin M.Z. adalah salah satu da’i kondang di Indonesia. Ia memiliki nama lengkap K.H. Zainuddin Muhammad Zein (M.Z.) lahir di Jakarta pada tanggal 2 Maret 1951. Anak tunggal dari pasangan Turmudzi dan Zainabun  keluarga Betawi asli. Udin, nama panggilan keluarganya. Sejak kecil, ia memang sudah nampak mahir berpidato.  

Bakat berpidatonya tersalurkan ketika mulai masuk Madrasah Tsanawiyah hingga tamat Aliyah di Darul Ma’arif, Jakarta. Kebiasaannya membanyol dan mendongeng dengan guyonan khas Betawi terus berlanjut di beberapa penampilannya dikampung-kampung. Kemampuannya itu terus terasah, seiring permintaan ceramah yang terus mengalir.

Bakatnya ini terbawa sampai ia dewasa hingga ia dikenal dengan julukan “da’i sejuta umat” karena da’wahnya yang dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat dan berbagai kalangan. Selanjutnya ia melanjutkan belajar ke perguruan tinggi di IAIN Syarif Hidayatullah Ciputat dan berhasil mendapatkan gelar doktor Honoris Causa dari Universitas Kebangsaan Malaysia.

Ia semakin dikenal masyarakat ketika ceramahnya mulai memasuki dunia rekaman. Kasetnya beredar bukan saja di seluruh pelosok Nusantara, tapi juga ke beberapa negara Asia. Sejak itu, ia mulai dilirik oleh beberapa stasiun televisi. Bahkan dikontrak oleh sebuah biro perjalanan haji yang bekerjasama dengan televisi swasta bersafari bersama artis ke berbagai daerah yang disebut ‘Nada dan Da’wah.

Kepiawaian ceramahnya sempat mengantarkan beliau ke dunia politik. Pada tahun 1977-1982 ia bergabung dengan partai PPP. Selain itu, keterlibatannya dalam PPP tidak bisa dilepaskan dari guru ngajinya, KH Idham Chalid yang pernah jadi ketua umum PBNU dan salah seorang deklarator PPP. Sebelum masuk DPP, ia sudah menjadi pengurus aktif PPP, yakni menjadi anggota dewan penasihat DPW DKI Jakarta. Bersama Raja Dangdut H. Rhoma Irama, MZ, berkeliling ke berbagai wilayah mengampanyekan PPP. Hasil yang diperolehpun sangat signifikan dan mempengaruhi dominasi Golkar. Pada 20 Januari 2002 M.Z. bersama rekan-rekannya mendeklarasikan PPP Reformasi yang kemudian berubah nama menjadi Partai Bintang Reformasi dalam Muktamar Luar Biasa pada 8-9 April 2003 di Jakarta. Ia juga secara resmi ditetapkan sebagai calon presiden oleh partai ini. MZ menjabat sebagai Ketua umum PBR sampai tahun 2006. Setelah merasakan panasnya suhu politik, akhirnya ia memilih mundur dan kembali sebagai pendakwah. Namun, ia kemudian dikabarkan kembali ke partai PPP atas tawaran Ketua Umum DPP PPP Suryadharma Ali.

Dibalik nama Zainudin MZ,

Tak banyak yang mengetahui inisial MZ. Dirinya selalu berkilah bahwa MZ merupakan singkatan dari ‘Memang Zainuddin’. Ternyata, huruf M dan Z diambil dari nama ayah Zainuddin. Menurut assistennya Fatulloh, nama aslinya sendiri adalah Zainuddin Hamidi. Nama itulah yang tercantum dalam KTP dan surat lahir Zainuddin. Menurut Fatulloh, MZ tidak menggunakan nama aslinya karena terlalu panjang. Kepergiannya membuat luka mendalam bagi umat Islam pada umumnya, khususnya keluarga. Kini MZ tinggal kenangan. Meski begitu masih banyak cerita yang tersimpan dari sosok ayah empat orang putra itu. Menurut istri MZ, Siti Kholilah. MZ merupakan sosok yang humoris, romantis dan sangat mencintai istri. ia tidak pernah malu menunjukkan sayang dan mesranya di depan banyak orang. Kata Siti, setiap kali akan pergi acara, dia selalu cium pipi kanan, kiri serta kening. 

Bahkan saat pergi ke masjid depan rumah, ia selalu menggandeng istrinya dan tak pernah dilepas. Selain itu, ketika MZ berada di luar rumah saling teleponan, Saat Siti mengucapkan salam, MZ menjawab dengan ‘walaikum sayang’. Siti bertanya kenapa jawaban salam malah dipelesetkan . MZ menjawab bahwa ‘walaikum sayang’ lebih dari salam untuk orang yang dicintai.

Suatu hari putranya “Sauki” pernah bertanya kepada MZ. Sauki bertanya bagaimana caranya mencari istri seperti Siti. “Istri kaya mamah Allah cuma ciptakan satu, buat ayah,” kenang Siti. Kala ditanya oleh rekannya dulu, MZ selalu menjawab bahwa Siti merupakan orang yang pertama dan terakhir. Itu terbukti sampai maut yang akhirnya memisahkan keduanya. 


Dua minggu jelang wafat

Menurut siti, tiga bulan sebelum meninggal MZ kerap  menyendiri di kamar. Dua minggu sebelum wafat dia jarang komunikasi dengan istrinya. Hingga Siti heran dan menganggap MZ marah kepadanya. Namun setelah putra bungsunya menanyakannya, dia menjawab lagi tak ingin banyak bicara. Keanehan lain saat itu, Selama dua minggu berturut-turut MZ hanya ingin makan buah sawo, pepaya dan mangga, gak mau makan nasi,”ujar siti. Setelah meninggal, Siti baru sadar bahwa saat MZ menyendiri ia banyak menulis pantun dan poin dakwah yang bakal ia berikan kepada jemaah. Namun isi tulisan itu mengarah kepada kematian.

Mercy di akhirat


KH. Zainuddin MZ dimakamkan di belakang masjid Jami Fajrul Islam. Sebelum meninggal, ia pernah bilang akan membuat Mercy akhirat. Mercy  yang dimaksud adalah sebuah masjid. Masjid itu pun berdiri megah. MZ kemudian menempatkan lahan kosong di belakang masjid yang sengaja disiapkan untuk tempat peristirahatan keduanya. “Mah suatu saat kalau kita dipanggil Allah, tempat kita di situ, entah aku dulu atau mamah dulu, entah mamah dulu atau aku dulu. Tempat kita di situ ya. Kalau bisa kita berbarengan, kalau nggak kita beriringan” katanya. Menurutnya, tidak ada lagi sosok pria seperti MZ yang begitu mencintai istri dan keluarga. beliau meninggal pada Selasa, 5 Juli 2011 pukul 10:15 WIB di Rumah Sakit Pusat Pertamina. Zainuddin, sempat tak sadarkan diri sebelum dibawa ke rumah sakit. ia menderita sakit gula darahnya kambuh, Jantungnya juga kambuh,” Penyebab wafatnya adalah serangan jantung.

Di nisannya tertulis nama Zainuddin MZ bukan Zainuddin Hamidi. Fatulloh bercerita tidak ada permintaan khusus terkait tulisan nama di nisan. Hanya memudahkan bagi para pelayat karena yang dikenal nama panjang MZ bukan Hamidi. 

PWNU DKI Jakarta Siap Ramaikan Munas Alim Ulama di Banjar, Jawa Barat

Jakarta, 26 Februari 2019 -NU ToLine, Menjelang Musyawarah Nasional di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo Kujangsari, Langensari, Kota Banjar, Jawa Barat yang akan di laksanakan pada tanggal  27 Februari – 1 Maret 2019, PWNU Provinsi DKI Jakarta siap membawa seluruh element ke pengurusannya dari Pengurus, Banom serta lembag-lembaga, di wilayah  DKI jakarta.

“Tidak hanya Para pengurus saja tetapi yang ikut serta juga terdiri dari PCNU, MWC serta ranting- ranting NU yang ada di DKI Jakarta”. Ujar Bapak Ahmad Diki selaku Panitia persiapan keberangkatan peserta MUNAS NU

Ketua Tanfidziyah PWNU DKI Jakarta Drs. H. Saefullah turut melepas Keberangkatan peserta ke Munas Alim Ulama NU nanti malam jam 09.00 di kantor PWNU DKI Jakarta. (NU Toline,26/02/19).

Biografi KH Abdullah Syafi’i (1910-1985)

NU Toline, Biografi KH Abdullah Syafi’i

KH. Abdullah Syafi’i adalah seorang ulama asal betawi, yang dikenal sebagai singa podium dizamannya, dan juga pendiri pesantren Asy Syafi’iyah di Jakarta.

Lahir di Bali Matraman Jakarta Selatan, pada 10 Agustus 1910 M. Pendidikan formalnya hanya kelas 2 SR (sekolah rakyat). Sejak kecil ia bercita-cita untuk menjadi ahli pidato dan juru da’wah. Karena itu ia kemudia belajar kepada ulama-ulama besar baik di Jakarta maupun Jawa barat. Diantaranya beliau belajar kepada Kyai Jauhari bin Sulaiman (tebet), Kyai Muanif (menteng atas), Kyai Marzuki (cipinang), Habib ali al Habsyi (Kwitang), Habib ali bin Husein (bungur) serta Habib Alwi bin Thohir (bogor).

Ayahandanya bernama H. Syafi’i bin Sairan yang bekerja sebagai pedagang buah-buahan. Sedangkan ibunya bernama Nona binti Sya’ari yang selain memiliki hobi berdagang juga memiliki keterampilan membuat kecap untuk dipasarkan dari rumah ke rumah. Dari pasangan suami istri itulah lahir KH. Abdullah Syafi’i dan dua orang saudara perempuannya, yaitu Rukoyyah dan Aminah.

Pada usia 13 tahun, Abdullah Syafi’i bersama orang tuanya telah melaksanakan ibadah haji ke Makkah selanjutnya pada usia 18 tahun ia sudah menikah dengan Siti Rogayah binti KH. Ahmad Mukhtar, seorang wanita terpelajar dan pernah menjadi pembaca Al-Qur’an di Istana Negara di hadapan Presiden Sukamo pada tahun 1949. Dari pernikahannya ini, KH. Abdullah Syafi’i memiliki lima orang anak yang bernama Muhibbah, Tuty Alawiyah, Abdur Rasyid, Abdul Hakim dan Ida Farida.

Pada tahun 1951, Siti Rogayah, isteri KH. Abdullah Syafi’i meninggal dunia. Kemudian pada tahun 1958, putrinya yang tertua, Muhibbah juga dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Terdorong oleh kebutuhan teman pendamping dalam rangka memperjuangkan cita-citanya untuk memajukan masyarakat, maka atas restu dari keluarganya, ia menikah lagi dengan seorang gadis yang bernama Salamah. Dari perkawinan yang kedua ini, ia dikaruniai sepuluh orang anak, yaitu Mohammad Surur, Syarif Abdullah, Mohammad Zaki, Elok Khumaira, Ainul Yaqin, Syafi’i Abdullah, Nufzatul Tsaniyah, Muhammad, Thuhfah, danLaila Sakinah.

KH. Abdullah Syafi’i yang sehari-harinya dipanggil dengan nama Dulloh, sebenarnya memiliki bakat berdagang sebagai mana orang tuanya. Ketika ia menuntut ilmu agama di berbagai daerah, ia telah berdagang barang-barang keperluan masyarakat, seperti kain batik dan songkok. Ia dikenal sebagai ulama yang energik, berbagai kegiatan ia lalaikan, mulai dari memberikan ceramah pengajian di beberapa majlis ta’lim, mendirikan dan mengelola pendidikan agama yang kemudian berkembang secara luas, dengan tidak meninggalkan profesinya dalam bidang perdagangan.

Bersepeda Jakarta-Bogor demi menimba ilmu.

Pendidikan KH. Abdullah Syafi’i dimulai dengan memasuki Sekolah Rakyat (SR) hanya selama 2 tahun. Setelah itu ia belajar dari satu ustadz ke ustadz yang lain, dari satu habib ke habib yang lain. Ayahnya memberikan sarana dan fasilitas yang berupa sepeda yang pada saat itu tergolong barang yang mewah. Dengan sepeda ia mendatangi guru-gurunya untuk mempelajari agama Islam. Bahkan ia pernah belajar ke seorang guru yang berada di Bogor yang jaraknya puluhan kilometer dari Jakarta dengan mengendarai sepeda.

Di antara ulama yang pernah menjadi gurunya adalah Mu’alim Al-Mushonif dalam bidang nahwu, KH. Abdul Majid (Guru Majid) dan KH Ahmad Marzuki (Guru Marzuqi) dalam bidang fiqih, Habib Alwi Al Haddad dalam bidang tasawuf, tafsir dan ilmu pidato, Habib Salim bin Jindan di Jatinegara dalam bidang ilmu hadist, Guru Mansur dalam bidang falaq dan Habib Ali Kwitang. Saat belajar kepada Habib Ali, ia bersama KH. Fathullah Harun dan KH Tohir Rohili dipersaudarakan oleh Habib Ali dengan putranya, Habib Muhammad Al-Habsyi. Dari KH. Abdullah Syafi’i dan KH. Tohir Rohili berdiri dan berkembang pesat majelis taklim As-Syafi’iyah dan At-Tahiriyah. Sedangkan KH. Fathullah Harun menjadi Ulama Betawi terkenal di Malaysia dan menjadi Imam Besar di masjid Negara Kuala Lumpur.

Hal tersebut menunjukkan bahwa cara belajar yang digunakan KH. Abdullah Syafi’i adalah Rihlah ilmiyah yang di dalam dunia Islam sudah lama dikenal. Di antara cara belajar yang digunakan KH. Abdullah Syafi’i adalah bahwa pada setiap hari tidak kurang dari 4 jam ia pergunakan untuk membaca kitab yang dilanjutkan dengan membuat catatan yang berupa intisari dari kitab yang dibacanya itu. Catatan riwayat hidupnya mengatakan, bahwa pada menit terakhir dia akan dipanggil Allah (wafat), ia meminta kepada putra-putrinya agar selalu membaca sebuah kitab. Salah seorang putranya, Abdul Rasyid mengatakan, bahwa KH. Abdullah Syafi’i memiliki semangat menuntut ilmu yang tinggi dan pembaca yang kuat, bahkan sebelum ia dipanggil Allah SWT masih sempat meninggalkan sebuah kitab untuk dibaca.

Setelah ia merasa cukup memiliki bekal pengetahuan agama, maka mulailah ia berusaha mengamalkannya. Pada usia yang tergolong muda, yaitu usia 18 tahun, ia telah mendirikan madrasah yang bertempat di tanah wakaf seluas 8000 m2 yang, diberikan oleh ayahnya di kampung Bali Matraman. Awalnya didirikan Madrasah Islamiyah yang akhirnya berganti nama Perguruan As-Syafi’iyah. Lalu di usia 23 tahun atau pada tahun 1933 ia mendirikan Masjid Al-Barkah. Dalam perkembangannya Masjid Al-Barkah digunakan sebagai tempat pengajian yang selanjutnya berkembang pesat sehingga membuat cabang di Kebon Jeruk Jakarta Barat, Pejaten Jakarta Selatan dan Bekasi Jawa Barat. KH. Abdullah Syafi’i mempunyai semangat dan dorongan untuk mendirikan madrasah berdasarkan pertimbangan sebagai berikut.

Pertama, ia melihat bahwa Bangsa Indonesia terutama etnis Betawi masih banyak yang bodoh sehingga secara sosial ia terpinggirkan. Kedua, untuk kalangan masyarakat Betawi, madrasah lebih diminati ketimbang pesantren. Ketiga, masyarakat Betawi yang umumnya beragama Islam yang taat lebih memilih madrasah daripada masuk sekolah Belanda. Keempat, berdirinya madrasah pada waktu itu dapat dinilai sebagai respons dari adanya modernisasi yang terjadi di Batavia serta pengaruh dari Timur tengah, khususnya Mesir. Kelima, sebagai orang yang dibesarkan di kalangan komunitas Betawi yang religius dan agamis, tentu saja KH. Abdullah Syafi’i lebih memilih lembaga pendidikan yang bernuansa Islami.

Sehubungan dengan keberhasilannya dalam bidang pendidikan ini, pada usia 21 tahun ia mendapatkan sertifikat atau beslit dari Rachen Scahf, sebagai pengakuan bahwa ia layak untuk menjadi pendidik. Di madrasah yang dimilikinya, ia bersama istrinya, Rogayah mengajarkan ilmu agama, seperti ilmu tauhid, ilmu fiqih, ilmu akhlaq dan ilmu-ilmu agama lainnya.

Seiring dengan perkembangan pengajian, Madrasah Diniyah pun ikut berkembang. Pada tahun 1957 didirikan Madrasah Tsanawiyah (MTS), Raudhatul Athfal pada tahun 1969. Setahun kemudian pada 1970 didirikan Sekolah Dasar (SD), Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) hingga Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Pengembangan lembaga pendidikan formal ini tidak hanya di Bali Matraman tetapi juga di Jatiwaringin. Selain itu juga mengembangkan kegiatan sosial, seperti poliklinik, pondok yatim piatu dan untuk kepentingan dakwah didirikan Radio AKPI As-Syafi’iyah.

Selain sebagai pendidik yang tekun, KH. Abdullah Syafi’i juga termasuk orang yang gemar bergaul dengan tokoh-tokoh masyarakat pada tingkat nasional dan dari berbagai etnis, seperti Ambon, Bali, Jawa dan Sumatra. Dalam kaitan ini ia pernah bergabung dalam Masyumi dan dekat dengan Muhammad Natsir, bahkan ia berhasil mengajak Natsir masuk ke dalam Majlis Dzikir Mudzakaroh untuk mengkaji kitab kuning. Setelah Masyumi bubar, KH. Abdullah Syafi’i tidak lagi berkiprah dalam bidang politik, melainkan lebih mengabdikan dirinya untuk pendidikan dan Majlis Ulama Indonesia hingga ia menjadi Ketua I MUI Pusat. Pada tahun 1978-1985, ia dipercaya menduduki jabatan sebagai Ketua Umum MUI DKI Jakarta dan kemudian pada tahun 1982 ia ditunjuk sebagai penasihat MUI Pusat yang pada waktu itu diketuai oleh Buya Hamka. Dalam kedudukannya sebagai ketua MUI DKI Jakarta ini ia menjalin hubungan baik dengan Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta.

Kendati dekat dengan Gubernur, ia tetap bersikap kritis terhadap berbagai kebijakan pemerintah DKI Jakarta. Ia misalnya mengkritik kebijakan pemerintah yang melokalisasi wanita tuna susila, melegalisasi perjudian dan sebagainya.

Kepopuleran dan besarnya pengaruh KH. Abdullah Syafi’i antara lain karena peran, sumbangan dan pengabdiannya dalam kepentingan agama, bangsa dan negara serta karena keluhuran budi pekerti dan akhlaqnya. Ia dikenal sebagai orang yang memiliki kepribadian yang terbuka luwes dalam bergaul. Karena sifat ini ia memiliki hubungan yang luas dengan hampir seluruh lapisan masyarakat, mulai dari pejabat tinggi pemerintahan, pejabat militer, ulama besar, tokoh pimpinan organisasi politik, bahkan pada masyarakat yang paling rendah seperti dengan karyawannya, tukang-tukang batu, yatim piatu, wanita-wanita jompo yang miskin dan sebagainya.

Toleransi khilafiyah antara KH. Abdullah Syafi’i dan Buya Hamka

Selain itu juga dikenal sebagai orang yang memiliki pandangan yang luas dan toleran dalam pandangan keagamaannya, hal ini dapat terlihat pada komentar Hamka sebagai berikut:

Ketika saya, KH Hasan Basri serta Kiai, sama-sama pergi ke Yogyakarta, sebagai basisnya Muhammadiyah, di sana kami melaksanakan shalat Jum’at yang khatibnya KH Hasan Basri. Sebagaimana tradisi di masjid-masjid Yogya pada umumnya, bahwa setelah adzan, khotib langsung berdiri menyampaikan khutbah, tanpa ada shalat qabliyah seperti yang dijumpai di Masjid al-Barkah Balimatraman yang dipimpin KH. Abdullah Syafi’i. Ternyata Pak Kiai mengikuti jama’ah lain. Ia tidak melakukan shalat Sunnah qabliyah.

Selanjutnya KH. Abdullah Syafi’i juga dikenal sebagai ulama yang tawadhu, dirinya berasal dari orang pinggiran. Namun ia tidak merasa canggung untuk berdialog dan bertukar pikiran dengan semua lapisan masyarakat, baik dengan kaum awam maupun dengan kaum cendikiawan.

Ketelitian dan rasa hematnya merupakan sifat lainnya yang dijumpai oleh KH. Abdullah Syafi’i. Menurut salah seorang muridnya, bahwa KH. Abdullah Syafi’i kerapkali memiliki ide untuk membangun pendidikan Islam. Ia tidak pernah berhenti mengawasi pembangunan yang dilakukannya. Ia selalu mengawasi para pekerja pembangunan dan selalu teliti dan hemat terhadap bahan-bahan bangunan yang tersisa untuk selalu dimanfaatkan untuk gedung yang sedang dibangun.

Para tamu KH. Abdullah Syafi’i sering kali diajak berkeliling melihat hasil atau proses pembangunan. Pada saat itu tidak jarang beliau memungut kayu yang tercecer, ia akan marah kepada mandor atau tukang bila menyia-nyiakan sisa semen atau potongan kayu.

KH. Abdullah Syafi’i juga dikenal sebagai sosok yang memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Ketika sekolah melaksanakan hari libur nasional ia tidak sepenuhnya meliburkan sekolahnya. Sekolah tetap dibuka, walaupun hanya untuk setengah hari, karena ia kasihan pada para pedagang yang biasa berdagang di lingkungan sekolahnya. Selain itu kepada para siswanya dan juga kepada kaum muslimin sering kali ia membagi-bagikan keperluan untuk shalat atau membagikan kitab Al-Qur’an yang dicetak di percetakaannya.

Buku-buku KH. Abdullah Syafi’i

Selama hidupnya ia menyempatkan dirinya untuk menulis. Di antara karya tulisannya :

  • Al-Muasasat Al-Syafi’iyah Al-Ta’limiyah. Kitab ini menjelaskan tentang latar belakang didirikannya madrasah serta materi pendidikan yang diberikan pada siswanya.
  • Bir Al-Walidain. Buku ini mengupas tentang kondisi ibu yang tengah hamil dan dengan susah payah dengan mempertaruhkan jiwa dan raga. Peran orang tua tersebut dilanjutkan dengan pemberian nama, pemeliharaan dan mengawasi jiwa, pikiran dan perasaannya dengan pendidikan dan pengajaran. Buku itu mengajak kepada semua anak agar menghormati dan berbakti kepada orang tua dalam rangka berbakti kepada Allah dan Rasulnya.
  • Penduduk Dunia Hanya ada Tiga Golongan. Di dalam buku ini KH. Abdullah Syafi’i mencoba membagi dan menyelami potensi dan karakter manusia dengan membaginya ke dalam tiga golongan. Pertama kelompok manusia yang beriman (mukmin), yaitu manusia yang meyakini Allah mengikut perintah dan menjauhi larangannya. Kedua, manusia yang ingkar terhadap ajaran Allah (Kafir), yaitu manusia yang tidak percaya Allah serta senantiasa melanggar perintah-Nya. Ketiga, manusia yang menampilkan sikap yang berbeda antara ucapan dan perbuatannya berbeda (Munafiq). Dua manusia yang disebutkan itu adalah manusia yang akan mendapatkan kerugian terutama di akhirat nanti.
  • Mu’jizat Sayiduna Muhammad. Di dalam karya tulisnya ini KH. Abdullah Syafi’i mengupas tentang Mu’jizat Nabi Muhammad SAW serta nabi nabi lainnya sebagai perbandingan. Pada kesimpulannya, ia mengatakan bahwa Mu’jizat Nabi Muhamad memiliki kelebihan dibanding mu’jizat nabi-nabi sebelumnya.
  • Al-Dinu wa Al-Masjid. Karya ini membahas mengenai hubungan yang erat antara agama dan tempat ibadah (masjid). Menjalin hubungan antara agama dan masjid adalah merupakan hal yang amat penting dan orang yang memakmurkannya akan mendapatkan kemakmuran dan pahala yang besar di sisi Allah.
  • Madarij Al-Fiqh. Dalam bukunya ini, KH. Abdullah Syafi’i membahas mengenai pengertian agama, pengertian Islam, iman dan rukun-rukunnya, termasuk dibahas pula di dalamnya tentang najis dalam kaitannya dengan shalat, qunut dan lainnya.

Dengan memerhatikan sebagian dari karyanya itu, dapat dikatakan bahwa KH. Abdullah Syafi’i di samping menguasai materi ajaran agama Islam dengan luas dan mendalam, juga menguasai bahasa Arab, baik secara lisan maupun tulisan. Hal ini menunjukkan keberhasilannya dalam mempelajari ilmu agama Islam yang ia lakukan dengan sistem rihlah ilmiah, yaitu melakukan perjalanan pulang pergi untuk menuntut ilmu pengetahuan.

Berdasarkan informasi dalam riwayat hidupnya, bahwa KH. Abdullah Syafi’i tidak pernah bermukim di pondok pesantren sebagimana lazimnya para ulama. Yang ia lakukannnya adalah berguru kepada sejumlah ulama di Jakarta dan sekitarnya dengan pulang pergi dari rumahnya di Balimatraman. Cara tersebut ternyata cukup efektif dan berhasil manakala dilakukan dengan penuh kesungguhan dan motivasi yang tulus ikhlas kepada Allah.

Pada tanggal 3 September 1985, KH. Abdullah Syafi’i tutup usia. Karena demikian besarnya peran dan jasa yang telah diberikannya, maka ketika ia wafat banyak sekali ucapan belasungkawa dan komentar yang diberikan dari berbagai kalangan. Ia mendapatkan ucapan belasungkawa dari Presiden Suharto. Sementara itu MUI Pusat mengajak seluruh kaum muslimin untuk melakukan Shalat Ghaib.

KH. Abdullah Syafi’i dimakamkan di Perguruan Islam As- Syafi’iyah, Jatiwaringin, Pondok Gede, Jakarta Timur.

Sumber By : Ust. M.Hazami Romli, S.Ag ( disarikan dari berbagai sumber)

Biografi Al-Maghfurllah As-Syaikh K.H. Ahmad Marzuki bin Mirsod

As – Syaikh K.H Ahmad Marzuki bin Mirsod ( Guru Marzuki)

Jakarta | Minggu, 24 Februari 2019 , NU Toline Masyarakat Betawi biasa menyebutnya dengan Guru Marzuki, yang membedakannya dengan sebutan ‘mu‘allim’ dan ‘ustaz’, meskipun sekarang dalam beberapa tulisan terkadang disebut dengan Kiai Marzuki. ‘Guru’ adalah level tertinggi dalam derajat keulamaan di kalangan masyarakat Betawi atau Jakarta tempo dulu. Ia adalah seorang ulama Jakarta atau Betawi dari akhir abad ke-19 dan awal ke-20.

Orang biasanya menyebutnya Guru Marzuqi Cipinang Muara walau di kitab-kitab yang dikarangnya ia menulis namanya dalam bahasa Arab Melayu tidak ada kata Cipinang, yaitu Guru Marzuqi Muara. Ada yang menulisnya dengan Marzuki,  bukan Marzuqi. Saya terakhir kali berkunjung ke makamnya yang berada di Kompleks Masjid Jami Al-Marzuqiyah Cipinang Muara (Senin, 1/12/2014), tertulis di poster silsilah namanya dengan tulisan Marzuki.

Nama Lengkap Guru Marzuqi adalah As-syekh Ahmad Marzuqi bin Ahmad Mirshod bin Hasnum bin Ahmad Mirshod bin Hasnum bin Khotib Sa’ad bin Abdurrohman bin Sulthon yang diberikan gelar dengan “Laksmana Malayang” dari salah seorang sultan tanah melayu yang berasal dari negeri Pattani, Thailand Selatan. Ibunya bernama Hajjah Fathimah binti Al-Haj Syihabuddin Maghrobi Al-Madura, berasal dari Madura dari keturunan Ishaq yang makamnya di kota Gresik Jawa Timur. Al-Marhum Haji Syihabuddin adalah salah seorang khotib di masjidf Al-Jami’ul Anwar Rawabangke (Rawa Bunga) Jatinegara Jakarta Timur.

As-Syekh Ahmad Marzuqi dilahirkan pada malam Ahad waktu Isya tanggal 16 Romadhon 1293 H di Rawabangke (Rawa Bunga) Jatinegara Batavia (Jakarta Timur). Usia 9 tahun ayahanda Al-Marhum berpulang ke Rohmatulloh dan diasuh oleh ibunda tercinta yang sholehah dan taqwa dalam suatu kehidupan rumah tangga yang sangat sederhana. Usia 12 tahun beliau diserahkan kepada sorang ‘alim al-ustadz al-hajj Anwar Rohimahulloh untuk mendapat pendidikan dan pengajaran Al-qur’an dan berbagai disiplin ilmu agama Islam lainnya untuk bekal kehidupannya dimasa yang akan datang. Selanjutnya setelah berusia 16 tahun, untuk memperluas ilmu agamanya, maka ibundanya menyerahkan lagi kepada seorang ‘alaim ulama al-‘allamah al-wali al-‘arifbillah dari silsilah dzurriyah khoyrul bariyyah SAW Sayyid “Utsman bin Muhammad Banahsan Rohimahullohu ta’ala.

Melihat kejeniusan dan kekuatan hafalan dari Marzuki muda, pada usianya keenam belas tahun, Saayyid ‘Utsman mengirimnya ke Makkah untuk belajar ilmu fiqih, ushul fiqih, tafsir, hadits hingga mantiq. Kesempatan menuntut ilmu tersebut benar-benar dipergunakan dengan sebaik-baiknya, sehingga, dalam waktu hanya 7 tahun saja beliau telah mencapai segala apa yang dicita-citakannya, yakni menguasai ilmu agama untuk selanjutnya diamalkan, diajarkan serta dikembangkan. Guru-gurunya di Makkah diantaran adalah Syaikh Usman SerawakSyaikh Muhammad ‘Ali Al-Maliki, Syaikh Umar Bajunaid Al-Hadhrami,  Syaikh Muhammad Amin Sayid Ahmad Ridwan, Syaikh Syaikh Hasbulloh Al-Mishro, Syaikh Umar Al-Sumbawi, Syaikh Mukhtar `Atharid, Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Syaikh Mahfudz At-Tarmisi, Syaikh Sa`id Al-Yamani, Syaikh Abdul Karim Ad-Dagestani dan  Syaikh Muhammad ‘Umar Syatho. Dari gurunya yang lain, yaitu Syaikh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan (Mufti Makkah), Guru Marzuqi memperoleh ijazah untuk menyebarkan Tarekat Al-Alawiyah,

Setelah selama 7 tahun beliau mukim di Makkah, kemudian datang sepucuk surat dari Sayyid ‘Utsman yang meminta agar Syaikh Ahmad Marzuqi dapat kembali ke Jakarta, maka pada tahun 1332 H atas pertimbangan dan persetujuan guru-gurunya di Makkah beliau kembali pulang ke Jakarta dengan tugas menggantikan Sayyid ‘Utsman (guru beliau) dalam memberikan pendidikan dan pengajaran kepada murid-muridnya. Tugas yang diamanatkan ini dilaksanakan sebaik-baiknya hingga sampai sayyid ‘Utsman berpulang ke Rohmatulloh.

Guru Marzuki juga mempelajari tasawuf, dan memperoleh ijazah untuk menyebarkan tarekat ‘Alawiyyah dari Syaikh Muhammad ‘Umar Syata, yang memperoleh silsilah tarekatnya dari Syaikh Ahmad Zaini Dahlan. Ia juga mendapatkan ijazah tarekat Khalwatiyah dari Syaikh ‘Usman bin Hasan al-Dimyati. Tarekat ‘Alawiyyah ini merupakan tarekat sufi tertua di Indonesia. Tarekat ini cukup populer di Hadramaut yang merupakan daerah asal para pendakwah yang membawanya ke Asia Tenggara. Di Indonesia, tarekat ini tidak mengenakan pakaian khusus, tidak pula menetapkan syaikh tertentu. Praktik yang dilakukan hanya berupa bacaan rawatib (bacaan rutin sehabis salat wajib 5 waktu) yang diwarisi secara turun temurun sejak Rasul Saw, dan sahabatnya. Para pemukanya juga tidak menetapkan syarat-syarat atau kaidah tertentu selain mendorong untuk selalu membaca rawatib dan wirid-wirid.

Pada tahun 1340 H, ia melihat keadaan di Rawa Bangke (Rawa Bunga) sudah tidak memungkinkan lagi untuk mengembangkan agama Islam, karena lingkungannya yang sudah rusak. Ia segera mengambil suatu keputusan untuk berpindah ke kampung Muara. Disinilah ia mengajar dan mengarang kitab-kitab di samping memberikan bimbingan kepda masyarakat. Nama dan pengaruhnya semakin bertambah besar, karena bimbingannya banyak orang-orang kampung memeluk agama Islam dan kembali ke jalan yang diridhoi Allah SWT. Tak hanya itu, para santri dan pelajar banyak berdatangan dari pelosok penjuru untuk menimba ilmu kepada beliau. Sehingga tepat kalau akhirnya kampong tersebut dijuluki “Kampung Muara”, karena disanalah muaranya orang-orang yang menuntut ilmu. Pada pagi hari jum’at jam 06.15 WIB tanggal 25 Rajab 1352 H, Guru Marzuki wafat. Jenazahnya dikebumikan sesudah sholat Ashar yang dihadiri oleh para ‘ulama dari berbagai lapisan masyarakat, yang jumlahnya amat banyak sehingga belum terjadi saat-saat sebelumnya. Acara sholat jenazahnya diimami oleh Sayyid ‘Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (Habib ‘Ali Kwitang).

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) memberikan penghargaan kepadanya karena telah ikut mendirikan NU di Batavia/ Jakarta pada tahun 1928 dan ia juga menjadi Rais Syuriahnya hingga wafat. Salah seorang cucunya, KH. Umairah Baqir (anak dari KH Muhammad Baqir) menikah dengan adik kandung seorang tokoh NU terkenal, KH. Idham Chalid .

Adapun kitab-kitab yang dikarangnya ada 13 buah, yang dapat dilihat sekarang hanya 8 buah, berisi tentang fiqih, akhlak, akidah, yaitu:

  1. Zahrulbasaatin fibayaaniddalaail wal baroohin.
  2. Tamrinulazhan al-`ajmiyah fii ma’rifati tirof minal alfadzil‘arobiyah.
  3.  Miftahulfauzilabadi fi’ilmil fiqhil Muhammadiyi.
  4. Tuhfaturrohman fibayaniakhlaqi bani akhirzaman.
  5. Sabiluttaqlid.
  6. Sirojul Mubtadi.
  7. Fadhlurrahman.
  8. Arrisaalah balaghah al-Betawi asiirudzunuub wa ahqaral isaawi wal `ibaad.

Guru Marzuqi dijuluki sebagai “Gurunya Ulama Betawi”, dalam pengertian, dari murid-murid yang didiknya banyak yang menjadi ulama Betawi terkemuka, di dalam satu keterangan ada sekitar empat puluh satu ulama Betawi terkemuka. Di antaranya adalah: Mu`allim Thabrani Paseban (kakek dari KH. Maulana Kamal Yusuf), KH. Abdullah Syafi`i  (pendiri perguruan Asy-Syafi`iyyah), KH. Thohir Rohili (pendiri perguruan Ath-Thahiriyyah), KH. Noer Alie (Pahlawan Nasional, pendiri perguruan At-Taqwa, Bekasi), KH. Achmad Mursyidi (pendiri perguruan Al-Falah), KH. Hasbiyallah (pendiri perguruan Al-Wathoniyah), KH. Ahmad Zayadi Muhajir (pendiri perguruan Az-Ziyadah), Guru Asmat (Cakung), KH.Mahmud (Pendiri Yayasan Perguruan Islam Almamur/Yapima, Bekasi), KH. Muchtar Thabrani (Pendiri YPI Annuur, Bekasi),  KH. Chalid Damat (pendiri perguruan Al-Khalidiyah), dan KH. Ali Syibromalisi (pendiri perguruan Darussa’adah dan mantan ketua Yayasan Baitul Mughni, Kuningan-Jakarta)